Goresan Tinta Terakhir
Pagi
itu adalah kali pertama aku terlambat sekolah. Karena mengerjakan tugas sampai
larut malam, aku jadi kesiangan.
Alarm
berbunyi.
Aku : “sumpah! Udah jam segini?!” (beranjak dari kasur
dan meraih seragamnya.)
Aku segera bersiap-siap menuju ke
Sekolah.
Bunda : “sarapan dulu dek.”
Aku : “udah bun,
udah bawa bekal di tas. Assalamualaikum.” (mencium tangan bundanya)
Bunda : “waalaikumsalam.”
Saat aku tiba disekolah, aku melihat sudah
banyak siswa yang terlambat, lalu aku langsung masuk ke barisan siswa
terlambat.
Lalu
tak berselang lama, datang seorang cowok.Penampilannya sangat berantakan,
dengan seragam sekolah yang tidak dimasukkan dan dasi yang sedikit mlengse. Kemudian ia berdiri disebelah
Qila.
Cowo : “Oh jadi ini
SMA 2 itu?”
Aku : “Hari gini
gak tau SMA 2? Norak banget sih..” (melihat cowok disebelahnya dengan sinis)
Cowo : “Aku baru 2
minggu tinggal di Semarang”
Aku : “Ohh anak
pindahan..” (Dengan nada sinis)
Cowo : “Oiya aku
lupa ngenalin diri, Aku Reza.” (sembari
mengulurkan tangannya)
Aku : “Aku
Saqila.” (hanya tersenyum terpaksa tanpa membalas uluran tangan si cowok)
Pak BP : “Bagi yang
terlambat langsung ke ruang BP sekarang untuk meminta surat ijin masuk kelas.”
Siswa : “iyaa pak”
(menjawab serempak, bubar ke ruang BP)
Kemudian pak Hadi melihat cowok yang berdiri disebelahku.
Pak BP : “Rezaa!!
Kamu ini baru masuk sudah membuat masalah!”(sambil menunjuk kearah cowok itu)
Cowok : “Maaf pak,
tadi saya nggak tau jalan kesini, jadinya nyasar. Kan saya orang baru
disinii..”
Pak BP : “Ah banyak
alesan kamu! Yasudah untuk kali ini bapak maafkan, awas kalau kamu berani
terlambat lagi! (nada mengancam)
Pak BP : “Reza, ikut
bapak!”(berjalan menuju ruang administrasi dan Reza mengikutinya)
Lalu
setelah aku diizinkan masuk oleh Guru BP yang menjaga.Aku segera masuk ke
kelas.Sesampainya dikelas Syifa, teman yang paling dekat denganku bertanya
kenapa aku terlambat dan untungnya guruku belum datang.
Syifa : “Qil, tumben banget kamu terlambat?”
Aku : “Iyanih Fa
tadi malem aku begadang ngerjain PR Kimia.” (sambil duduk disebelah Syifa)
Syifa : “Ohhh
pantes, gabiasanya kamu telat gini, untung gurunya belom dateng.”
Aku : “Untung ya hehe..”
Satu
minggu kemudian Reza mengajak ngobrol aku ketika bertemu di kantin.Dia meminta ID Line ku.
Reza : “Hai shel”
Aku : “Hmm?” (melirik reza)
Reza : “Sendirian aja nih?”
Aku : “Engga, bareng temen cuman lagi jajan”
Reza : “Ada line ga?”
Aku : “Ada, kenapa?”
Reza : “Bagi ID nya dong”
Aku : “Nih” (memberikan hp)
Reza : “Makasih” (sambil nyengir)
“Tinggal dulu ya”
Aku : (menganggukkan kepala)
Syifa dan Firadatang.
Syifa : “Itu siapa shel?”
Fira : “Itu yang anak baru bukan?”
Aku : “Iya, yang itu”
Fira : “Kok kamu udah kenal sama
dia?”
Aku : “Baru juga kenalan”
Lalu
pada hari itu kebetulan aku gak ada yang menjemput.Lalu pada saat pulang
sekolah, Sammy menghampiriku.
Sammy : (naik motor ke arah Qila)“Pulang
bareng yuk”
Aku : “Engga. Makasih” (sinis tanpa melihat Sammy)
Sammy : “Alah bareng
aku aja, Qil”
Aku : “Aku dijemput” (bohongnya)
Sammy : “Yaudah, aku duluan” (sambil melaju ke tempat biasa
nongkrong)
Lalu
aku menunggu didepan gerbang sekolah sambil memainkan handphoneku.Tak lama
kemudian Reza menghampiriku untuk mengajakku pulang bersamanya.
Reza : “Gaada yang jemput nih?”
Aku : “Iya, aku dah pesen gojek kok tapi.”
Reza : “Udahlah
gausah bohong, tadi aku liat kamu nyari uang di sakumu”
Aku : “Apasih, aku kan bayarnya pakek gopay.”
(memperlihatkan
hpnya kepada Reza)
Reza
: (Tersenyum saat melihat
isi gopayku yang bernilai Rp.0-,) “Tuhkan gaada isinya, udah bareng aja sama
aku.”
Aku : “Mmm Iyadeh.”
Terpaksa
aku menerima tawarannya.Ternyata Sammy melihatku dan Reza pulang bersama dari
tempat tongkrongannya.Sesampainya di rumah, bunda bertanya tentang cowok yang
mengantarku pulang tadi.
Bunda
: (menyapu halaman sambil
melihat anaknya yang baru pulang)
Aku : “Assalamualaikum Bundaaa!!”
(salim kepada bunda)
Bunda
: “Wa’alaikum salam. Itu tadi
siapa dek yang nganter kamu pulang?Kok bunda nggak pernah liat?” (sambil
mengajak Qila masuk kerumah)
Aku
: “Nggg… itu bun, dia
Reza. Murid baru disekolahku.”
Bunda : “Ohh..”
Semenjak hari itu, Aku dan Reza
mulai deket dan jalan bareng.
Beberapa hari kemudian aku mendengar bahwa
Sammy berantem sama Reza.Aku gak nyangka kalo Sammy segitunya.Lalu keesokan
harinya mereka berantem lagi di kantin, dan aku melihatnya secara langsung.
Reza : (bercengkrama dengan teman sekelasnya)
Tiba-tiba
Sammy datang.
Sammy : “Lo tau gak!! Qila itu cewe gua, lo jangan berani –
berani deketin dia lagi!! Paham!! (sambil mencengkram
kerah baju Reza)
Reza : “Lo kira gua takut mentang – mentang lu senior?
Kagak sama sekali.” (nada menantang)
Sammy : “Berani juga ya lo.” (beradu jotos dengan Reza)
Lalu
aku melerai keduanya bersama teman dekat Reza yang bernama Amar.
Aku
: (berlari menghampiri
mereka) “Sammy!!Kamu ngapain sih?!Aku tu bukan siapa-siapamu!”(nada marah
sambil menunjuk-nunjuk Sammy)
Sammy
: “Oke, kalo emang mau kamu
gitu!! Gak akan lagi aku ganggu kamu!! (berjalan menjauh)
Sammy
meninggalkan tempat itu begitu saja.Untung tidak ada guru yang mengetahui
peristiwa tersebut.
Hari
berganti hari, hubunganku dan Reza semakin dekat saja.Saat chattingan, Reza
selalu bisa membuatku senyum-senyum sendiri.
“Ah gak
mungkin kalau aku sampai suka sama Reza, dia kan badboy gitu” batinku gelisah.
Pada
hari itu, tepatnya hari Kamis sepulang sekolah.Reza menyatakan perasaanya
padaku saat itu.
Reza
: “Qila, kita kan udah
cukup lama deket. Aku juga udah mulai nyaman sama kamu.” (lalu suasana hening
sejenak) “Yaa aku cuma mau ngungkapin perasaanku aja sih.”
Qila : (hanya terdiam)
Reza
: “Kamu pasti tau kan Qil
apa yang bakal aku omongin. Gak perlu kamu jawab sekarang kok.Tapi jangan lama
– lama buat aku nunggu ya.Soalnya tiap orang akan mengalami masa – masa dimana
dia bakal lelah menunggu Qil.” (ucapnya dengan senyum di wajahnya)
Qila : “Mmmm iya Za aku jawab minggu depan ya.”
Setiap
hari aku selalu memikirkan jawaban atas omongan Reza saat itu.Walaupun aku
belum menjawab pernyataan Reza, kita tetap deket seperti biasanya.Sampai
terjadi kejadian itu.
Reza
tiba – tiba saja menghilang, dia gak masuk sekolah selama hampir 2 minggu.Lalu
aku tanya ke teman – temannya dan tidak ada satupun yang tau. Aku langsung saja
kerumahnya saat itu bersama Amar dan Rio.
Amar,
Rio : “Permisi, Assalamualaikum”
(berterik, didepan gerbang rumah Reza)
Adek :
“Wa’alaikum salam, ehh mas Amar sama mas Rio, nyari mas Reza yaa?” (berlari
membuka gerbang rumah)
Amar : “Iya dek..Rezanya ada nggak?Kok
udah seminggu nggak masuk? Ini lho dicari sama calon pacarnya..” (sambil
menunjuk Qila yang tersipu malu)
Aku : “Jadi, Reza kemana dek?”
(bertanya dengan tidak sabar)
Adek : “Emmm..jadi sebenarnya mas
Reza lagi dirawat di rumah sakit. Denger-denger sih mas Reza sakit kanker
paru-paru.”(sambil menundukkan kepala, sedih)
Aku : “Hah!! Yang bener dek?”
Amar,
Rio : (terdiam)
Adek : “Kayaknya sih gitu, aku juga nggak terlalu ngerti”
Aku : “Kok dia nggak pernah bilang
sama aku? (kaget, kemudian melihat kearah Amar dan Rio yang sedari tadi
terdiam) Amar! Rio! Jangan-jangan kalian udah tau masalah ini? Kok kalian nggak
pernah bilang sama aku kalo Reza tu udah lama sakit” (menunjuk kearah Rio dan
Amar, merasa kecewa, berusaha menahan tangis)
Rio : “Ehh..sumpah Qil, aku sama
Amar baru tau sekarang, walaupun kita teman dekat tapi dia nggak pernah bilang
apa-apa tentang penyakitnya itu” (berusaha meyakinkan Qila)
Amar : “Iya Qil, waktu itu aku pernah
mergoki dia batuk-batuk, tapi dia cuma bilang kalo itu batuk biasa, awalnya aku
ngerasa aneh, soalnya dia nggak biasanya batuk sampai kayak gitu, tapi dia
selalu bilang nggak papa, jadinya aku nggak terlalu khawatir”
Rio : “Reza dirawat dimana dek?”
Adek : “Di RS Pelita mas”
Aku : “Gimana nih mar, yo, aku
takut Reza kenapa-napa” (khawatir, masih menahan tangis)
Amar : “Udah Qil, kamu tenang dulu,
aku yakin Reza nggak kenapa-napa”
Aku : “Gimana aku bisa tenang mar,
kalo dia kenapa-napa gimana?”
Rio : “Tenang Qil, gini aja
berhubung ini udah sore, gimana kalo besok kita ke RS Pelita, njenguk Reza?”
Aku :
“Yaudah deh..” (berusaha tenang)
Amar : “Makasi ya dek infonya. Kami
pulang dulu.” (pamit pada adiknya Reza)
Adek : “ Ya mas, sama-sama.”
Lalu
kita pun bergegas pulang ke rumah masing – masing.
Keesokan
harinya.Aku mendapatkan kabar burung bahwa Reza telah tiada.Aku tak tinggal
diam. Setelah pulang sekolah, aku segera pergi ke rumah Reza bersama Syifa dan
Fira untuk memastikan kabar tersebut. Dan benar saja, semua orang di sana
tampak bersedih dan menangis, Amar dan Rio pun sudah berada disana.Lalu Amar
dan Rio menghampiriku. Dia menjelaskan apa yang terjadi.
Aku : (datang menghampiri Amar dan
Rio bersama Syifa dan Fira) ”Jadi kabar itu benar?’’
Amar, Rio :
(diam tidak menjawab, muka sedih)
Aku :
“Kenapa kalian diam saja?” (sedikit membentak dan mulai menangis)
Amar :
“Dia udah ga ada, Qil”
Aku :
(kaget lalu menangis dan memeluk sahabatnya)
Syifa :
“Udah qil udah, tenang..”(menenangkan)
Rio :
“Besok pemakamannya”
Aku :
(terisak) “Aku nggak percaya! Kalian bohong kan?!”
Fira :
“Tenang dulu qil”
Aku :
“Gimana bisa tenang, Raa. Aku belum nyampein gimana perasaanku ke dia, dan dia
udah pergi duluan."
Syifa
: "Coba buat ikhlas qil, jangan bikin reza tambah sedih
disana."
Aku
: (menangis
Fira
: "Sabar qil, semua ada hikmahnya."
Syifa dan Fira memeluk Saqila
Esok
adalah hari pemakaman Reza, hari yang sama sekali tak pernah ku bayangkan.
Di
pemakaman, banyak orang yang menangisi kepergian Reza.
Aku
: "hey kamu ngapain dibawah sana za? Panas ga? Atau dingin? Aku
kangen." (Lirihnya sambil menitihkan air mata)
Tiba tiba saja langit mulai mendung
Aku
: "eh mendung nih za mau hujan. Kamu gamau apa gitu nemenin aku
hujan-hujanan? (Senyum miris) sumpah aku kangen banget za." (Isakan tangis
semakin menjadi)
Syifa
: "qil ayo pulang"
Fira : "ini mendung mau hujan, nanti kamu
sakit. Kamu gamau kan reza sedih disana ngeliat kamu sakit."
Aku
mengangguk lalu mendekat ke nisan reza
Aku : “hey, meskipun kita belum
resmi pacaran tapi aku sayang kamu kok. Datang ke mimpi aku ya. Aku pamit
dulu.” (bisik lembut sambil memegang nisan Reza”
Sebelum meninggalkan makam, adik
Reza menghampiriku untuk memberikan sesuatu kepadaku.
Adek : “kak, ini ada titipan dari kak
Reza”
Aku : “buat kakak?” (menunjuk diri
sendiri)
Adek : “iya buat kak qila, sebelum kak
Reza pergi dia nyuruh aku buat ngasih
ini ke kakak. Aku gatau isinya apa. Nih kak terima ya.” (memberikan barang
bungkusan itu) aku duluan ya kak.”
Aku : “oh iya. Makasih dek.”
Sesampainya dirumah, aku langsung
membuka barang itu. Setelah kubuka ternyata ada sebuah surat yang bertuliskan
“Untuk Saqila”
“Hai Qil, apa kabar? Aku harap kamu
baik baik aja. Mungkin waktu kamu baca surat ini, aku udah gaada. Ingin rasanya
surat ini gak sampe ka kamu, tapi Tuhan berkehendak lain. Aku harap kamu baik
baik aja. Jangan teralu berlarut larut sedihnya Qil, tetep ceria kaya Qila yang
aku kenal ya.
Maaf ya, aku ga pernah cerita
tentang penyakitku, karena aku gamau kamu sedih. Jangan khawatir sama aku, aku
disini baik baik aja kok. Kalo aku tahu akhirnya aku bakal bikin kamu sedih aku
nggak bakal jatuh cinta sama kamu. Tapi aku bersyukur bisa kenal sama kamu. Aku
harap kamu bisa tetap bahagia walaupun gaada aku. Aku akan tetep sayang sama
kamu. Makasih udah ngisi hari-hariku. Aku sayang kamu, Qil.”
Aku : “coba aja aku tahu dari
awal, aku gaakan biarin kamu berjuang sendirian. Aku juga sayang kamu, za.”
Arwah Reza melihatku sambil
tersenyum.
Comments
Post a Comment